Khwajagan

2017-09-23 13.33.20Membaca literatur dan kisah2 sufi dari Asia Tengah memang selalu mengagumkan. Saya mencintai semua yang ada di sana, orang-orangnya, tradisinya, keadaan alamnya, tanahnya, tanamannya, bangunannya, kulturnya, sejarahnya, semuanya! Hanya dengan memandang gambar atau membaca kisah2nya saja bisa memberi energi tersendiri buat saya. (Semoga Allah sampaikan ke sana suatu hari nanti.. masturah, aamiin). Gak heran kalau Shaykh Zulfiqar Ahmed Naqshbandi Mujaddidi (db) sampai menuliskan kisah perjalanannya dalam buku “Travelling Across Central Asia”.

Continue reading

Advertisements
Posted in Setoples Camilan | Leave a comment

Sepotong Episode [2]

Waktu awal masuk SMA dulu, saya kagum sama anak2 rohis. Semangat belajar agamanya tinggi meskipun berasal dari keluarga awam dan tinggal di lingkungan yang belum kondusif keislamannya. Mungkin saat itu, saya lebih beruntung karena tinggal di lingkungan pesantren dan punya sedikit bekal untuk fondasi aqidah dan agama saya. Setelah bergabung bersama mereka, saya banyak belajar tentang semangat untuk berbuat baik dan bermanfaat bagi sesama. Sangat sederhana. Bisa dibilang, mereka anak baik2 yang polos dan tulus, memandang kehidupan di dunia dengan cara yang lurus, yang seharusnya. Mereka gak berpikir yang aneh2 di saat remaja2 lain mungkin belagak nakal atau penasaran melakukan hal2 yang berkebalikan dengan mindset kebanyakan orang, tipikal jiwa muda. Tapi, semangat saja memang belum cukup.

Continue reading

Posted in Segenggam Kenangan, Setoples Camilan | Leave a comment

Tablighi itu… (?)

2017-09-11 03.18.40Tulisan ini bukan apa-apa, cuma rangkaian benang-benang kusut di kepala hasil pemikiran cetek dari logika yang dangkal. Jadi mohon maaf jika alurnya semraut dan kalimatnya berantakan. Ini bukan dakwah, karena dakwah itu gerak, bukan tulisan. Saya aja ngetiknya sambil nyantai ditemani camilan, jadi gimana bisa disebut dakwah? Sedangkan dakwah itu butuh pengorbanan, makanya dakwah selalu dekat dengan nushrah ghaibiyyah. Seperti perjuangan para Anbiya’ dulu juga dengan gerak, jalan dari satu daerah ke daerah lain untuk sebarkan ajaran Allah. Ulama salaf juga mencari ilmu dari satu tempat ke tempat lain demi dapat guru bersanad, karenanya ilmunya awet dan karya-karyanya spektakuler. Syurga itu diraih dengan pengorbanan, semakin banyak korban semakin paham. Intinya mujahadah. Continue reading

Posted in Sebungkus Kado, Secangkir Renungan, Setoples Camilan | Leave a comment

Kepada yang Tak Abadi

Kepada yang tak abadi,

Tanggal-tanggal yang tanggal itu kini tinggal angka-angka yang terpenggal. Menyisakan kata-kata gusar juga lembar-lembar cerita yang gemetar di altar. Aku mempersembahkannya untukmu yang tak abadi. Agar kau tahu hanya itulah yang tersisa dan kau punya, tak lebih.

Segerombolan angin datang membawa tanya dalam desingnya, “Untuk apa kau di sini?” “Untuk pergi,” kata ingat kepada lupa. Telinganya gelisah menafsir.

Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Desiderium

2016-08-17-13-02-20Terimalah ini, sebentuk cinta yang kusulam dari kerumun kata. Yang tintanya mengalir bersama musim bergulir. Yang pitanya kurangkai dari angin semilir dan ricik-ricik air. Mungkin tak seberapa. Tapi kuharap bisa menambah warna pada bianglala yang kau gantung di pucuk senja. Semoga memberi makna.
Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Singa dari Timur [4]

image

: Usaha Da’wah Masturah

***

Bismillah…

Di sebuah desa bernama Kasabpura (dekat New Delhi, India) hiduplah sepasang suami istri, Maulana ‘Abdus Subhan dan ahliyah-nya. Beliau adalah murid Maulana Ilyas di Nizamuddin. Istrinya seorang ‘alimah yang memiliki risau fikir terhadap kondisi muslimah di Mewat saat itu, beliau sedih melihat keadaan kaum wanita yang jauh dari agama dan berpikir bagaimana caranya agar wanita bisa ikut mengamalkan agama. Di rumah beliau, diadakan majelis ilmu untuk mengajarkan wanita akan pentingnya agama.

Continue reading

Posted in Sebungkus Kado | Leave a comment

Da’wah. Ta’lim. Tazkiyah.

2016-12-15-01-33-23Di dunia maya ini, semua orang bisa menjadi siapa saja: hakim, polisi, guru, ustadz, pakar ekonomi, ahli tafsir, ahli bahasa, ahli politik, ahli hubungan internasional, apalah. Siapapun boleh berkomentar, suka-suka menulis status, bebas berpendapat. Semua mengaku benar, tak satu pun yang merasa bersalah dan butuh dikritik. Nasihat hanya tulisan yang patut di‘like’ atau di‘share’ karena di sini hanya berlaku jargon “Don’t Judge me” dan “Urus saja dirimu sendiri”. Jadi, anggaplah saya sedang bicara sendiri dan kamu gak perlu tersinggung.

Continue reading

Posted in Secangkir Renungan | Leave a comment