SKS (Sombong Karena Salah, Salah Karena Sombong)

Kepala saya pusing, pikiran juga lagi kacau, jadi ijinkan saya memulai tulisan ini dengan membaca ta’awudz: ‘a-uudzubillaahiminsysyaithoonirrojiim….”. Semoga Alloh menjauhkan saya (juga Anda) dari godaan syaitan yang terkutuk, serta membimbing tulisan ini agar tetap berjalan di jalur yang benar.***

Bismillah…

Ini tentang sebuah rasa yang akhir-akhir ini begitu mengusik pikirannya.
-nya? -nya siapa? Yang nulis-lah tentunya. Siapa lagi? Kasihan, belakangan ini hidupnya tak tenang. Bukan, bukan karena memikirkan perubahan nasibnya yang kini menjadi pengangguran baru. Bukan juga karena dia diburu banyak dosen untuk dimintai tanda tangan (eh, kebalik ding! Dia yang berburu tanda tangan untuk skripsinya. Dosen sekarang –masyaAlloh- susahnyaaa ditemuin, dah macam artis saja!). Pun bukan karena ia gelisah dan galau dalam penantian panjang yang tak kunjung datang (wisudanya lama banget euy! Maret… pyuh!). Ini… lebih dari semua itu. Lebih. Ini tentang… idealisme yang coba dikikis zaman. Tentang paradigma yang coba dijungkirbalikkan. Tentang, mereka yang bermain-main dengan keangkuhan. (Setting latar: padang pasir nan luas, angin berembus di pekat malam, debu-debu beterbangan, lalu perlahan muncullah sesosok bayangan makluk bermata satu dengan tulisan kafir di jidatnya tertawa-tawa di atas bangunan piramida. Auuuuugh…)

*serius mode ON

(Entah) berapa milyar tahun yang lalu,

iblis membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon terlarang. Dengan ‘baik’nya, iblis memberi informasi kepada Adam dan Hawa bahwa buah itu dapat membuat keduanya kekal abadi di syurga. Sebuah bujukan yang tampak manis dan halus, membuat keduanya tergoda untuk memakan. Namun setelah mereka memakannya, terbukalah aurat  keduanya. Lalu diusirlah mereka dari syurga, dan diturunkan ke dunia.

Waktu terus berlalu,

Seorang Raja pagan, Fir’aun bin dajjal tiba-tiba ‘tampak’ begitu bijak, “Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. [QS. Ghafir: 26]. Kalimat ‘manis dan halus’ ini akhirnya merasuk dan diyakini oleh para pembesar fir’aun. Kemudian, berkatalah mereka dalam bahasa senada, “Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” [QS. Al A’raf: 127]

Dan sekarang,

di Tata Dunia Baru, mereka yang menjajah sebuah Negara dan membantai ribuan nyawa tak bersalah disebut sebagai pahlawan penyelamat dunia, pembebas masyarakat dunia dari terorisme, pembawa misi perdamaian. Demokrasi dianggap solusi paling tepat bagi kesejahteraan rakyat di sebuah Negara.

Lagu lama yang terus dinyanyikan Iblis, fir’aun dan generasi penerusnya untuk menganggap baik sesuatu yang buruk dan memoles yang buruk agar tampak baik.

***

“Tak ada yang salah di dunia ini. Semua benar. Karena ini hanya soal perspektif. Bergantung dari sudut mana ia memandang.”

Saya sempat kaget ketika mendengar kalimat itu terlontar dari mulut seorang ikhwan. Sekilas, argumennya mungkin terkesan bijak, penuh kearifan. Ia mencoba merangkul semua sudut pandang; menyelami satu persatu persepsi dari sekian banyak kepala; berusaha menemukan sebab, akibat, alasan, dan latar belakang; bergelut dalam proses perenungan yang cukup panjang, hingga akhirnya melahirkan sebuah konklusi seperti yang telah ia kemukakan. Sadarkah ia bahwa sebenarnya ia sedang bermain-main dengan paradigma? Mungkin ia sudah kenyang melahap banyak sekali buku sastra, juga menyantap berbagai pemikiran filsafat. Tapi apa dia lupa kalau ia masih memiliki Al Quran dan Sunnah? Bukankah ia selalu membacanya? Bukankah semua ilmu dan pemikiran berangkat dan berpijak ke sana? Atau saya-nya aja yang terlalu kolot memandang dunia? Terlalu sempit berpikir dan terlalu sederhana dalam berlogika? Menilai hak dan bathil hanya dari satu kacamata? Entah… Satu yang pasti, ternyata saya belum siap hidup di Tata Dunia Baru. Saya seolah gak sadar (atau pura-pura gak sadar) kalau sekarang saya bernafas di jaman abu-abu. Jaman yang punya banyak sekali lika-liku.

Kadang kita terlalu asyik bermain-main dengan istilah. Tak sedikit pula yang mengagung-agungkan rasionalitas. Hati-hati kawan, rasionalitas seringkali mengantarkan manusia pada jurang keangkuhan. Keangkuhan yang berbeda dari sekadar ucapan, sikap, dan perasaan sombong. Ini jauh lebih rumit. Ketika rasionalitas bertemu dengan keimanan, maka yang ada adalah amal dan pengorbanan. Namun ketika rasionalitas bertemu dengan keangkuhan, maka ia berpotensi besar menjadi bentuk pembangkangan. Pembangkangan yang akan menutup hati seseorang untuk menerima kebenaran. Menolak apa-apa yang seharusnya dan yang tidak seharusnya ia lakukan, sebagaimana nilai-nilai Islam mengajarkan.

“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Alloh”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa.” [QS. AL Baqoroh: 206]
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Alloh telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.  [QS Al Baqoroh: 6-7]

Ayat di atas ditujukan pada orang kafir yang jelas-jelas membangkang. Lalu bagaimana dengan mereka yang beriman? Apakah mereka juga berpotensi untuk menjadi pembangkang? Tentu. Alloh menyebutnya dengan ‘penyakit’.

“Dan dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Alloh penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.” [QS Al Baqoroh: 10]
“Dan mereka mengingkarinya karena kedzoliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya, maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” [QS. An-Naml: 14]

Sebuah contoh kecil dari bentuk reinkarnasi tersamar keangkuhan, misalnya ketika seseorang tak mampu menjadi yang terbaik, maka dia akan membesarkan hatinya dengan berkata “Be My Self!” ‘Menjadi diri sendiri apa adanya’ bisa jadi salah satu cara menghibur diri orang-orang yang kalah. “Menjadi diri sendiri apa adanya” berbeda dengan “Menjadi diri sendiri sebagaimana mestinya”. Karena fitrahnya, ketika manusia lahir, ia memulai segalanya dari nol. Dengan dibekali indera, hati, dan akal, ia belajar dan terus belajar menjadi yang terbaik (meski tak sempurna). Tapi jika ia mempertahankan dirinya apa adanya, maka tak ada pertumbuhan, tak ada pertambahan (ilmu, pemahaman, kesadaran, dll). Menjadi diri sendiri apa adanya juga berarti pemakluman diri atas kesalahan dan pilihan-pilihan buruk yang ia jalani. Berbuat dosa, lalu mengakuinya (bahkan menikmatinya) dianggap sebagai sebaik-baik kejujuran. Manis kelihatannya, dan sedikit mengharukan. Tapi itu tak lebih dari memoles kesombongan agar tampak indah. Itulah mengapa Alloh melarang hambaNya untuk membongkar dosa dan aibnya sendiri (terlebih aib orang lain) karena Alloh sendiri telah menutupinya. Ketika seseorang khilaf dan berbuat dosa, yang diperlukan adalah segera bertaubat dan memperbaiki diri, bukan malah berterus terang dengan menceritakan keburukan-keburukannya pada orang lain. Bahasa manisnya, jujur di jalan keburukan.

Analogi yang sama dengan mengaku diri ‘gak bisa’. ‘Gak bisa’ bukan karena ia sadar diri akan kemampuannya yang terbatas, tapi lebih karena ‘gak bisa’ merupakan cara paling halus untuk memanipulasi keengganan. ‘Tidak bisa’ dalam arti ‘tahu diri’ bisa menjadi motivasi untuk terus menambah kebisaan dan meningkatkan kualitas (ilmu, keterampilan, maupun kontribus/amal), sementara ‘tidak bisa’ sebagai alasan mempermanis keangkuhan hanya akan benar-benar mengantarkanya pada kelumpuhan dan ketidakbisaan. Misalnya, seorang kader dirasa sudah saatnya memegang halaqoh. Namun ketika diminta oleh MRnya untuk membina, dia berkata “Afwan ustadz, gak bisa. Kafa’ah ana belum mumpuni. Lagipula, amanah ana banyak sekali ustadz, takut gak tawazun”. Sang ustadz tinggal melihat kemampuan kader tadi, jika benar ia belum cukup bekal dan over load amanah, maka ini termasuk dalam kategori tidak bisa karena tahu akan kadar diri. Namun, jika sang ustadz tahu bahwa kader tadi sebenarnya mampu dan memiliki kapasitas sebagai Murobbi, maka perkataannya tadi tak lebih dari sebuah ekspresi keangkuhan. Menolak suatu kebaikan dan mencari alasan sebagai pembenaran. Terlebih lagi menolak ajaran dan perintah Rosululloh seperti kisah berikut.

Lelaki itu menolak untuk makan dengan tangan kanan. “Tidak bisa,” katanya. Padahal Rosululloh langsung yang memintanya. Saat bersama pada sebuah jamuan makan, Rosululloh melihat lelaki itu makan dengan tangan kiri. Padahal ia tidak sakit. Tangannya juga berfungsi. Maka Rosululloh menjelaskan, bahwa sebenarnya lelaki itu bisa makan dengan tangan kanan. “Tidak ada yang menghalangi kamu makan dengan tangan kanan kecuali keangkuhan,” kata Rosululloh. “Kamu benar-benar tidak akan bisa,” begitu do’a Rosululloh. Tiba-tiba lelaki itu benar-benar tidak bisa makan. Kedua tangannya lumpuh. Tragedi keangkuhan itu berakhir dengan ketikdabisaan.

Seringkali kita menjumpai pemanis keangkuhan dengan perkataan ‘tidak bisa’. Tidak bisa berdakwah, tidak bisa menjadi teladan, tidak bisa memosting tulisan ‘serius’,  tidak bisa berjihad, tidak bisa bertaubat sekarang, tidak bisa berjilbab dalam waktu dekat, tidak bisa untuk tidak menerima suap, tidak bisa berbisnis dengan jujur, dan lain sebagainya.

Terkadang seseorang merasa diri tidak bisa menjadi yang terbaik dengan alasan bukan sosok yang sempurna. Padahal, menjadi yang terbaik adalah perjalanan yang tujuannya bukan kesempurnaan, melainkan PROSES. Siapa yang mengejar hasil tetapi dengan cara melawan proses yang sesuai prinsip-prinsip keniscayaan, maka baginya kebalikan dari apa yang diinginkan. Namun, kesetiaan pada proses dan sunnah, meski sangat berat, akan berbuah keberkahan dan kemelimpahan.

Barangkali, termasuk wujud pemanis keangkuhan juga ketika seseorang menikmati ketidakberdayaannya dengan selalu menyematkan tafsir negatif pada orang lain yang berlomba-lomba melakukan kebaikan. Menganggap dakwah orang lain hanya untuk mencari kekayaan. Mengira kontribusi orang lain untuk mengejar kekuasaan. Menyangka bahwa aksi solidaritas sebagai aksi cari muka. Memandang blog lain terlalu idealis dan sok berkoar-koar tentang dakwah dan jihad. Itulah pekerjaan orang-orang yang banyak bicara sedikit kerja. Terlebih lagi orang-orang yang banyak bicara dan tak ada kerja. Karena kerjanya cuma bicara, menuding ke sana ke mari. Mengotori hati dengan berprasangka negatif pada saudaranya sendiri.

Siapa yang mampu menjamin bahwa salah satu di antara kita selamat dari godaan keangkuhan? Ia merasuk ke setiap jiwa manusia dengan sangat halus dan tersamar. Apalagi jika dibalut dengan berbagai alasan, terminologi, dan pemaknaan yang terlihat indah. Terkadang ia menyatu dalam kebiasaan, mengalir dalam keseharian, tanpa kita sadari. Herannya, ada sebagian dari kita yang menggoda keangkuhan dengan bungkusan pemanis, lalu syaitan pun menyeret mereka sungguhan ke jalan kesesatan.

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)?” [QS. Fathir: 8]


Wallohu ta’ala a’lamu bishshowaab…


Khaleeda, 05022010
setitik debu yang semoga bisa ngelilipin mata dajjal

Terinspirasi dari:
komen temen2 di MP,
orang2 yang saya kenal,
dan buku2 yang saya baca.

Advertisements

About khaleeda

Setitik debu yang semoga bisa ngelilipin mata Dajjal | Sunni | Ash'ari-Shafi'i-Naqshbandi Mujaddidi | Dragon Slayer | Slave of Allah
This entry was posted in Sebungkus Kado. Bookmark the permalink.

16 Responses to SKS (Sombong Karena Salah, Salah Karena Sombong)

  1. Astaghfirullah…Berkonseplah UP GRADE YOUR SELF (irshad abdassah)

    Like

  2. nila _rw says:

    Mmmm…astaghfirullah.Pun ketika hanya sebesar zarrah

    Like

  3. Arie Widiana says:

    umi banyak mendapat hal2 baru kalau membaca tulisan anti…anti jadi guru umi ya….btw, anti mau wisuda ya…selamat ya…wisudanya maret ? abi juga akayaknya maret jg….

    Like

  4. betul mba nila….na'udzubillah…

    Like

  5. qta pun bisa berguru pada seekor semut atau lebah, ya kan mi?hikmah dan pengalaman adalah guru terbaik (hikmah tu siapa ya?)iya mi, maret….wah, abi juga? barokalloh ya….berarti umi ke surabaya dunk?? kopdaaaaaaaaaaaaaaaarrr….

    Like

  6. jazaakillah khoir.. =)

    Like

  7. Manusia hanya bagaikan setitik debu di antara semesta raya, tp kesombongannya melampaui langit dan bumi.. ^^

    Like

  8. @ jaraway & islamicyoung : waiyyakum…

    Like

  9. Astaghfirulloh…..*merasa manusia*

    Like

  10. iphan lulu says:

    spechless…ternyaa dalih-dalih itu bs jd…astaghfirulloh…jzki udah diingetin…

    Like

  11. semoga qta bisa lebih hati2 memilih alasan ya sist.. Astaghfirulloh…waiyyaki…

    Like

  12. pipi cha says:

    05?ank farmasi y mbk?lam knaL Y. Nice wrote. Saya mau brlangGANAN.HE2

    Like

  13. yup 2005, anak bahasa dan sastra indonesiasalam kenal balik ^^silakan kalo mau berlangganan 🙂

    Like

  14. komea miehet says:

    ^_^ dulu… aye pernah nyoba buka ni wp, tapi gak bisa diliat. cuma ada info kalo wp nenek dibuat private, alias cuma buat konsumsi nenek doang. tapi tadi pas aye pengen nyari-nyari artikel tentang salah karena sombong, aye malah ngeliat ada link ke wp nenek, pas aye klik, ternyata bisa dibuka. hemmm… apa ini artinya wp nenek dah gak diprivate lagi ye…??? btw artikelnya aye copas ye, mo aye posting di blog aye

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s