Kamu

image

Bagiku, sastra seperti rumah yang selalu terbuka untuk kudiami. Sekadar menghangatkan jiwa dalam gerimbun kata atau sembunyi dari kejaran rasa. Bagiku, puisi adalah semangkuk sup yang kunikmati saat pikiranku lapar. Entah karena bosan memeluk diam atau karena kamu yang tetiba duduk di sebelahku menggelar senyuman.

Hei, lama tak bertemu! Ke mana saja? Bangku di tepi jalan itu masih menyimpan percakapan singkat kita. Di ujung kemarau saat kau menantiku, mengenang orang-orang yang hilang, sedang hujan tak kunjung datang. Tak ada yang berubah, musim masih sama, dan kau tetap lelaki yang duduk di seberang senja, menghitung rusukmu yang hilang sebelah.

Angka-angka berjatuhan dari kalender, menimbun segala pisah membangun sebuah kisah. Aku terlalu sibuk menghitung jarum jam yang berputar, sementara waktu tak pernah menunggu, menelan setiap detik, memuntahkan masa lalu. Sudahlah, tak perlu menyesalinya, karena tanggal mungkin berulang, tapi usia kian terbuang.

Kemarilah, bawa kisahmu ke dalam segelas kopi. Duduklah di sini. Cuma aku, kau, dan cerita kita. Tak ada dia atau mereka. Aku janji. Berhentilah bicara tentang keluarbiasaan cinta, karena seringkali ia menjelma dalam ketidaksempurnaan kita. Sesederhana tanya yang kau ajukan di bangku sore itu, saat cahaya mentari kian meleleh lalu tergelincir di telan ombak. Masih kuingat saat pandangku terggelam dalam bening matanya yang teduh. Aneh, tak ada aku di situ. Mungkin ini semacam labirin yang akan mengantarkanku pada sebuah pintu: hatimu. Setelah ratusan jejak dan ribuan tapak, tak mungkin kulawan kehendak.

Aku masih di sini menggenggam sebuah pena dan buku. Mencatat semua cerita dan merangkumnya menjadi masa lalu. Aku tidak pernah mengarangnya sendiri, dan tidak pernah mau.

Tuliskan saja namamu di sini, biar waktu yang akan mengejanya, dan taqdir akan membawanya…

padaku.

***

Khaleeda, 23102016

Whatever happens, let it happen.

Advertisements

About Khaleeda

Setitik debu yang semoga bisa ngelilipin mata Dajjal | Sunni | Ash'ari-Shafi'i-Naqshbandi Mujaddidi | Tablighi | Dragon Slayer | Slave of Allah
This entry was posted in Sekeranjang Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s