Singa dari Timur [3]

 

14908402_361775797491229_9133506690898092571_n

Bismillah…

India. 100 tahun yang lalu.

Saat itu, perahu yang ditumpangi umat Rasulullah Saw terombang ambing di samudera kegelapan yang penuh penyimpangan dan kebathilan. Di tengah kondisi yang sangat bermasalah itu, Allah sekali lagi menurunkan kasih sayangNya, menunjukkan kuasaNya. Ketika zaman semakin terpuruk dan agama Allah Swt semakin ditinggalkan, itu pertanda bahwa Allah ingin mendatangkan seseorang untuk mengingatkan hamba-hambaNya agar kembali kepadaNya.

Risau pikir itu muncul dari seorang laki-laki keturunan Siddiqui (Abu Bakr As-Siddiq RA) di pinggiran kota Delhi, Maulana Muhammad Ilyas Khandahlawi (1885 M). Keluarga Siddiqui di Jhanjhana dan Khandhala (Saharanpur) dikenal sebagai generasi muslim yang shaleh dan pembelajar, pengorbanan dan khidmat mereka untuk ummat dan agama begitu besar. Para wanitanya adalah ahli dzikir dan pecinta Al-Quran. Muhammad Ilyas dididik dengan cahaya ilmu dan akhlak yang mulia dari ayahnya (Maulana Ismail) dan ibunya (Bi Shafia). Masa kecilnya dihabiskan di rumah kakeknya di Khandhla dan juga dengan ayahnya di Nizamuddin. Ketika beliau masih kecil, Shaykhul Hind -Maulana Mahmud ul Hasan Deobandi pernah berkata, “Aku mencium bau Sahabah dalam diri Ilyas.”

Melihat kondisi masyarakat di sekitarnya yang semakin jauh dari Allah Swt dan sunnah Rasulullah Saw, atas petunjuk dan rahmatNya, Allah tuntun laki-laki itu untuk melanjutkan usaha dakwah para Anbiya’ As dan Sahabat R.hum. Tak ada kepentingan duniawi ataupun menambah hal baru dalam Dinul Islam, ia hanya berupaya meneruskan kerja dakwah yang telah lama ditinggalkan.

Awalnya, beliau menyeleksi beberapa orang Mewat untuk dikirim ke daerah Uttar Pradesh (Utara India) untuk berdakwah. Beberapa Ulama India (salah satunya, Hazrat Maulana Ashraf Ali Thanwi) -yang mendengar adanya jamaat yang dibentuk Maulana Ilyas menganggap itu adalah fitnah baru untuk ummat, karena berdakwah perlu ilmu. Mendengar hal itu, Maulana Muhammad Ilyas tidak memberi respon, tidak dengan lisan ataupun tulisan.

Musim dingin tahun 1933, Maulana Ilyas merekrut 250 laki-laki dari sekitaran Mewat untuk belajar mengusahakan agama selama 2 bulan di jalan Allah. Maulana Ilyas membawa mereka ke Delhi sebagai rute yang telah dipilih. Di Jaame’ Masjid Delhi dekat Red Fort, Shaykhul Islam Maulana Husain Ahmad Madani memberi bayan hidayah kepada Jamaah tentang apa yang harus mereka lakukan selama keluar di jalan Allah. Beliau menyampaikan bahwa usaha dakwah dan tabligh akan menghapus kebatilan/kemungkaran di muka bumi, Pemerintahan Inggris di India akan berakhir dan bendera Inggris yang saat itu berkibar di Red Fort akan turun, inshaAllah! Beliau juga mengingatkan bahwa usaha dakwah ini adalah aksi nyata, bukan slogan.

Setelah berdoa, jamaah berangkat ke area-area yang telah ditentukan: Karnaak – Panipat, pinggiran kota Saharanpur, dan sekitar Khandhala. Maulana Ilyas meminta Jamaah yang bergerak di Khandhala untuk tidak kembali dulu ke Delhi setelah menyelesaikan waktunya. Karena Khandhala adalah tempat tinggal Maulana Ilyas, beliau me-nushroh Jamaah dan mengikrom mereka dengan jamuan serta memuji usaha yang telah mereka lakukan. Kemudian beliau berkata, “Tuan-tuan, jumlah keseluruhan kalian 60 orang. Beri saya 8 orang saja untuk 8-10 hari. Mereka harus siap pergi ke mana pun saya kirim.”

Karena mereka telah meninggalkan keluarganya selama 2 bulan untuk berada di jalan Allah, tidak ada seorang pun yang bersedia. Setiap orang ingin kembali ke rumahnya. Maulana Ilyas dan Maulana Ihtishamul Hasan terus mendorong dan memotivasi anggota Jamaah untuk menambah korban beberapa hari lagi. Setelah 2-3 hari berusaha (mengajak), seorang pemuda berusia 17 tahun, Miyanji Munshi Muhammad Isa menyatakan siap untuk ditugaskan. Maulana bahagia dan memeluk pemuda tersebut lalu berkata kepada Jamaah, “Apakah kalian tidak ingin mengambil pelajaran dari pemuda ini? Dia lebih muda dari kalian, namun paling tinggi keberaniannya.”

Kemudian beberapa orang Jamaah ikut mendaftarkan dirinya untuk menambah masa. Mereka adalah:
1. Numbardaar Mehrab Khan dari Ferozpur, Namak.
2. Munshi Nashrullah dari Nuh.
3. Hafiz Abdul Rahman dari Ferozpur, Namak.
4. Haji Saadullah Raenah.
5. Molvi Ibrahim dari Shama.
6. Abdullah Saqqah dari Ferozpur, Namak.
7. Hasan Khan dari Ferozpur, Namak.

Allah telah memilih mereka sebagai generasi awal usaha tabligh yang meneruskan kerja dakwah Rasulullah Saw dan Sahabat R.hum. Maulana Ilyas menyertai keberangkatan Jamaah dengan banyak berdoa dan memberi nasihat, di antaranya:
1. Bagaimana seseorang menghabiskan waktunya di jalan Allah
2. Jamaah meneruskan ke Thanabhawan, namun sebelum mendekatinya, jamaah perlu memperbanyak usaha dakwah yang dengan aktivitas tersebut beritanya dapat sampai kepada Maulana Ashraf Ali Thanwi. Kemudian ketika beliau mengirim pesan untuk mengundang jamaah ke kotanya, jamaah harus banyak memohon pertolongan dan ampunan kepada Allah dan bergegas menemui beliau.
3. Jika Maulana Thanwi tidak mengundang jamaah, maka kembalilah ke Nizamuddin, Delhi.
4. Apabila jamaah dipanggil ke Khanqah-nya, jamaah masuk dengan adab/etika yang benar dan penghormatan yang tinggi.
5. Jika Maulana Thanwi menanyakan tentang aktivitas jamaah, maka jelaskanlah Prinsip-prinsip dan tertib usaha dakwah dengan benar, jelas, dan singkat (padat).
6. Jangan berbicara yang dapat membuat khawatir dan menggoyahkan hati Maulana Thanwi.
7. Jika Maulana Thanwi bertanya tentang berapa hari jamaah tinggal di Thanabhawan, jawablah “tiga hari”.
8. Bagaimanapun, jika Maulana Thanwi meminta jamaah untuk tinggal lebih lama, maka salah satu anggota jamaah hendaknya merespon dengan berkata, “kami akan tinggal sebanyak hari yang Maulana inginkan.”
9. Jika Maulana Thanwi bertanya mengenai makanan jamaah, jawablah bahwa jamaah menyiapkan makanannya sendiri. Namun jika Maulana Thanwi berkeinginan untuk menjamu jamaah, terimalah dengan senang hati karena remah-remah roti kering dari seorang yang shalih jauh lebih berharga (berkah) dari karunia apapun.

Setelah menyampaikan nasihatnya, Maulana Ilyas mendoakan jamaah dengan doa yang sangat menyentuh, sehingga membuat seluruh jamaah menangis. Lalu beliau mengantarkan jamaah sampai keluar Khandhala dan terus menasihati mereka sembari berjalan.

Begitulah, betapa Maulana Ilyas sangat memuliakan para Ulama, diantaranya Hakimul Ummah -Maulana Ashraf Ali Thanwi dan Mufti Kifayatullah Dehlawi. Mereka adalah ulama rujukan ummat saat itu. Beliau tidak ingin usaha yang dilakukannya tidak mendapat ridha dari para Ulama. Dan Alhamdulillah, keberangkatan jamaah pertama ke Thanabhawan, dengan izin dan rahmat Allah, membukakan pintu hati Maulana Ashraf Ali Thanwi untuk menerima usaha dakwah yang mulia ini.

Sejarah telah mencatat, bahwa dari arah Timur sanalah dakwah kembali ditegakkan. Saat zaman diselimuti kegelapan, hamba-hamba terpilih bergerak ke seluruh alam menyampaikan agama yang perlahan mulai dilupakan, menyebar ke penjuru dunia, menerobos kota-kota hingga ke pelosok desa, berkorban harta-waktu-tenaga, meninggalkan orang-orang tercinta demi Sang Pemilik Cinta.

India. Lembah Sungai Indus, tempat segalanya bermula. Manusia Pertama (Adam As) menjejakkan kakinya di sana. Tanah dan pohon-pohonnya melekat wangi syurga, lembah terbaik bagi peradaban manusia di dunia. Di zaman para Nabi terdahulu, peradaban berpusat di wilayah Mesopotamia, Sumeria-Akkadia-Assiria-Babilonia. Bani Israil menjalankan perannya, Rasul-Rasul di utus dari kalangannya. Sedang peradaban India kuno (Harappa dan Mohenjodaro) telah maju dengan keilmuannya, namun hampa nilai agamanya. Iblis dan keturunannya bersarang dan menjadikannya pusat ajaran paganisme terbesar di dunia. Pantaslah jika Rasulullah Saw mengabarkan tentang keutamaan berjihad ke Al-Hind (India-Pakistan-Bangladesh). Tak tanggung-tanggung, bagi siapapun yang berjihad ke sana, Allah membebaskannya dari siksa api neraka.

“Ada dua kelompok dari umatku yang akan diselamatkan oleh Allah dari siksa api neraka; kelompok yang berjihad di India dan kelompok yang berperang bersama Nabi Isa As.” (HR. An-Nasa’i)

Zaman telah dipergilirkan, begitupun dengan kaum dan orang-orang yang dipilih untuk memegang kejayaan. Namun karena keberpalingan mereka dari menaati hukum-hukum Allah Swt, serta pengkhianatan dan kecintaan terhadap dunia, amanah untuk menegakkan Dien ini pun terus berganti. Siapapun mereka, dari bangsa mana saja, jika memenuhi syarat-syaratnya, Allah akan memilih dan memuliakannya.

Bani Israil mencapai puncak kejayaannya di masa kerajaan Nabi Sulaiman As, bangsa Arab di masa Rasulullah Saw-Khulafaur Rasyidin dan sebagian penguasa Daulah Umawiyah, bangsa Persia penyokong Daulah Abbasiyah, bangsa Kurdi bersama Salahuddin Al Ayyubi, bekas budak dari Asia Tengah pendiri Dinasti Mamluk di Mesir, hingga bangsa Turki bersama Sultan Muhammad Al Fatih di era Ottoman. Semua kaum telah menjalankan perannya. Tinta telah mengering, taqdir telah dituliskan, sejarah telah bercerita tentang yang terganti dan yang menggantikan, tentang yang terpilih dan pantas memperjuangkan. Allah, Yang Kuasa memberi hidayah pada siapapun yang Dia kehendaki. Allah, pemilik kunci semua pintu-pintu rahasia, padaNyalah bermuara segala jawaban dari setiap pertanyaan. Allah… Sang penulis skenario kehidupan.

“Dan jika kalian berpaling (dari jalan yang benar) niscaya Dia akan menggantikan kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kalian.” (QS. Muhammad: 38)

Sekarang kita menuju garis akhir peradaban manusia, entah siapa yang akan diberi amanah untuk mengembalikan kejayaan Islam bersama Nasab Suci yang dijanjikan. Nabi Saw telah mengabarkan, menyebutkan ciri-cirinya dalam nubuwwat akhir zaman. Panji-panji hitam dari arah Timur akan muncul membela Sang Khalifah, menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk Allah semata. Kualitas keimanan, ketaqwaan, keikhlasan, ketaatan, dan kekuatan yang melebihi orang-orang di zamannya… berpadu dengan pengabdian, pengorbanan, dan kecintaan pada Allah dan RasulNya yang melebihi cintanya pada keluarga dan diri mereka sendiri. Duhai, siapakah mereka? Yang Allah mencintainya dan memuliakannya? Sungguh keberuntungan yang luar biasa.

Timur… arah telah ditetapkan. Khurasan, Nusantara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam), ataukah India. Tak ada yang tahu pastinya. Khurasan (Persia) telah menggantikan bangsa Arab di era Daulah Abbasiyyah, mutiara-mutiara ilmu berkilauan dari sana, a’immatul ‘ilm, a’immatul hadits… namun di penghujung zaman nanti fitnah justru muncul di sana, akan ada 70.000 pasukan yang akan menjadi tentara Dajjal: Rafidhi. Lalu Nusantara, entah, melihat kondisinya saat ini, cukup sulit memperhitungkannya… butuh persiapan yang sangat ekstra, masih banyak hal yang perlu dibenahi, tidak hanya kekuatan iman dan ketaatan, tapi juga kekuatan fisik (perang) dan rohani (tasawwuf) menyambut post-apocalypse. Dunia begitu menyibukkannya. Masih jarang ditemui mereka yang benar-benar terhindar dari fitnah dunia dan fitnah teknologi yang melalaikan, sedikit yang memadukan ta’lim-tabligh-tazkiyah dan mengamalkan sunnah dalam keseharian. Namun bukan berarti tidak ada. Allah akan menyeleksinya.

Siapapun orangnya.
Dari mana pun asalnya.

“Aku merasakan angin sepoi-sepoi berembus dari India….” (Al-Hadits)

***

NB:

Sedikit tentang Maulana Muhammad Ilyas Rah.a

Permulaan tahun 1897, Maulana Ilyas yang masih berumur 10 tahun pindah ke Gangoh untuk mendapat pelajaran khusus dari kakaknya -Maulana Muhammad Yahya. Saat itu, Gangoh adalah tempat para sufi dan ulama. Beliau berbai’at (suluk) pada Maulana Rashid Ahmad Gangohi dan berguru selama 9 tahun kepadanya. Maulana Rashid Ahmad Gangohi wafat pada tahun 1905 saat Maulana Ilyas berumur 20 tahun, sedangkan ayah beliau -Maulana Ismail wafat ketika beliau berumur 13 tahun (1898).

Pada tahun 1908 Maulana Ilyas pergi ke Deoband untuk mempelajari ilmu hadits Tirmidzi dan Shahih Bukhari dari Maulana Mahmud ul Hasan, serta berbai’at (suluk) pada Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Tahun 1910 Maulana Ilyas mengajar di Mazaahirul Ulum, dan 2 tahun kemudian beliau menikah dengan putri pamannya (dari jalur ibu) yg dihadiri oleh Maulana Muhammad (kakak tertua beliau), Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri, Shah Abdur Rahim Raipuri, serta Maulana Ashraf Ali Thanwi.

Agustus 1914 Maulana Ilyas melaksanakan ibadah Haji bersama Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri. Setahun kemudian, kakak tercinta sekaligus guru beliau -Maulana Muhammad Yahya wafat, disusul kakak tertua beliau (beda ibu) Maulana Muhammad di Nizamuddin. Banyak orang di Delhi dan Mewat merasa kehilangan karena kepergian keluarga yg terhormat dan penuh khidmat utk agama tersebut, sehingga mereka meminta Maulana Ilyas kembali ke Nizamuddin utk menghidupkan dakwah di sana sepeninggal kakak beliau. Maulana Ilyas pun meminta izin pada guru spiritualnya -Maulana Khalil Ahmad Saharanpuri untuk tinggal di Nizamuddin. Dan dari sanalah, banyak jamaah diantar ke seluruh dunia untuk menghidupkan amal agama (usaha dakwah wa tabligh) hingga saat ini.

***

Al faqeerah ilaa Rabbiha
Khaleeda, 04112016

 

Advertisements

About Khaleeda

Setitik debu yang semoga bisa ngelilipin mata Dajjal | Sunni | Ash'ari-Shafi'i-Naqshbandi Mujaddidi | Tablighi | Dragon Slayer | Slave of Allah
This entry was posted in Sebungkus Kado. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s