Desiderium

2016-08-17-13-02-20Terimalah ini, sebentuk cinta yang kusulam dari kerumun kata. Yang tintanya mengalir bersama musim bergulir. Yang pitanya kurangkai dari angin semilir dan ricik-ricik air. Mungkin tak seberapa. Tapi kuharap bisa menambah warna pada bianglala yang kau gantung di pucuk senja. Semoga memberi makna.

I
Semalam, para nimfa baru saja memetik air mata dari pohon kerinduan yang menjulang. Bulirnya ditampung dalam cawan kecemasan menanti maut tiba. Tak ada yang tersisa selain rindu menggelora di tiap tetesnya. Terikat dalam bait doa yang tak henti-henti kuucap. Menanti kelahiran esok dengan sepenuh-penuh harap.

II
Dingin menombak-tombak tulang subuh ini. Setelah gerimis berkunjung semalaman menyisakan bukit-bukit pada kelopak dan genangan air memarit di pipi. Kudayung sebuah perahu kertas membelah Gangga, Nil, Tigris, Suez, dan Mesopotamia. Menyusuri lekuk-lekuk Damaskus, Aden, Bashra, Istanbul, Syam, Hijaz, hingga Andalusia. Membawa secarik pesan tentang jiwa yang rimbun rindu. Rindu melihat ribuan kepak sayap kupu-kupu beterbangan dari matamu. Ruang bebas yang terampas berabad-abad silam. Saat Islam menancapkan jejaknya di jantung-jantung peradaban. Rindu melihat sejarah itu kembali terulang.

III
Segepok koran dan secangkir kopi menjadi menu membaca pagi. Ribuan peristiwa menggelepar di lembar-lembar kertas yang gemetar. Abjad-abjad menggigil dan kata-kata meradang jadi darah. Sekarat menunggu waktu membawanya mati, mengubur segala kisah dalam balutan arti. Pungutlah ia sebelum benar-benar pergi.

IV
Ketika seribu luka mengalirkan seribu tontonan yang sebenarnya tak perlu dilukis pada lempeng peperangan, musim kembali mengaparkan perjalanan. Kadang penaku tenggelam dalam kenangan menjelang malam. Tiap kali kau bilang mimpiku sirna, neon di sudut kamar mengumbar tawanya. Aku tak apa-apa. Hanya perlu sedikit bersabar saja.

V
Hujan lebat dan angin yang menjambak mengirimiku kabar kematian. Lolong suara kepedihan yang mengeksploitasi retak-retak bumi Kana’an jadi kabung nafasku. Ingin sekali kupahat musim dengan sketsa yang kugurat pada mimpi agar terbit senyum di ujung pelangi. Dan di atas kedua tangan yang terangkat, aku tetap angkuh mengusung doa. Karena kuyakin ia akan menembus langit ketujuh dan mengibas awan-awan keputusasaan. Walau tsunami mengganyang tubuhku, akan tetap kukepal azzamku. Mungkin saat ini belum bisa, tapi jangan pernah berpikir aku akan menyerah.

VI
Sejarah tak henti mencatat di buku waktu. Tentang tangismu yang kehilangan air mata. Dan teriakan merdeka yang menjelma lagu kematian. Di sana, desingan peluru dan takbir melebur jadi satu. Suara itu lebih keras dari amukan gelegar petir. Teriakan-teriakan nurani yang dirobek, dan batang-batang tangan yang terus mengepal. Lebih baja dari segala baja, bersama kerikil yang menjelma mata senjata.

VII
Sementara itu, di ruang berbeda dan waktu yang tak sama. Serdadu berseragam berjalan dengan arogan. Mencuci seragamnya dengan darah di sungai pembantaian. Menyeringai dengan senyum beracun. Di pintu-pintu penuh selongsong peluru, gadis kecil berkerudung duduk terpaku. Salak anjing dan peluru memburu, menyerbu. Dan embun di mana pun kini bercampur darah. Nafas-nafas di sudut kota mulai berbau bara. Bercampur dengan debu dan asap jelaga. Membantai, lalu merasai damai. Adakah yang menilai semua ini usai?

Tinggal puing-puing beku. Juga angin yang menjeritkan diam. Sementara langit merekam segala itu dalam rintik gerimis yang gemetar.

VIII
Sebuah keranjang menampung kata-kataku yang mengabu. Hurufnya menyembur dari celah pena dan doa-doa yang kupinang. Setiap bait melahirkan bom. Meledak. Memekak. Menyentak. Meruntuhkan tiang-tiang nurani. Abunya bertaburan di sepanjang-panjang kata, di pucuk-pucuk senjata.

IX
Di mana harus kusembunyikan gerimbun resah dan kemilau gundah? Di balik senyum merekah atau di linang air mata? Cuma harapan yang terus bertumbuh di kantong-kantong doa. Melumat segala rasa menyerah tanpa sudah. Terbangun dari tidur kata-kata.

X
Sesore ini, aku masih menjemur kalimat di bawah terik hatimu yang menyala. Padahal matahari sudah kecemplung di kolam, dan pekat sebentar lagi akan menggulung petala langit senja. Syair pedang yang menyayat-sayat tidur lelapku tadi siang. Sesak, juga ada isak. Mimpi yang sama sejak aku melihat air matamu terpelosok ke rawa-rawa pipi. Sejak aku mengerti betapa senyummu teramat berarti.

Ingin sekali kudekap tubuh mungilmu yang membeku di sudut paling senyap. Tapi sayap-sayapku rontok diterkam harimau diri dan alibi yang kubuat sendiri. Aku cuma bisa memelukmu dalam sajak yang kehilangan jejak. Juga doa-doa yang tak henti kupanjat. Suatu saat. Ya, suatu saat. Aku benar-benar akan terbang ke tempatmu. Menetas jadi kupu-kupu. Entah kenapa, aku percaya itu.

Perang masih berkecamuk dalam mayapada. Kukayuh perahu rinduku ke lautan paling gelombang. Kualirkan sungai harapku ke ladang paling kerontang. Hingga doa-doa berhamburan dari langit, menguntai sejuta kerlip.

Desiderium.

***

Ketika mata hanya bisa menangis, istighfar mungkin menjadi bahasa doa paling manis.

Al Faqeerah ila Rabbiha
Khaleeda

Advertisements

About khaleeda

Setitik debu yang semoga bisa ngelilipin mata Dajjal | Sunni | Ash'ari-Shafi'i-Naqshbandi Mujaddidi | Dragon Slayer | Slave of Allah
This entry was posted in Sekeranjang Sajak. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s