Category Archives: Sekeranjang Sajak

Desiderium

Terimalah ini, sebentuk cinta yang kusulam dari kerumun kata. Yang tintanya mengalir bersama musim bergulir. Yang pitanya kurangkai dari angin semilir dan ricik-ricik air. Mungkin tak seberapa. Tapi kuharap bisa menambah warna pada bianglala yang kau gantung di pucuk senja. … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Kamu

Bagiku, sastra seperti rumah yang selalu terbuka untuk kudiami. Sekadar menghangatkan jiwa dalam gerimbun kata atau sembunyi dari kejaran rasa. Bagiku, puisi adalah semangkuk sup yang kunikmati saat pikiranku lapar. Entah karena bosan memeluk diam atau karena kamu yang tetiba … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Asyura

Asyura, sejarah kembali merobek-robek misterimu yang tertuang di atas kertas. Tinta masih basah dan kenangan belum sepenuhnya jelas. Menggoreskan luka dan mendidihkan laut di mata. Ini bukan ratap nestapa atau syair duka lara. Bukan pula tawa bahagia atau bait-bait kosong … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Re

Hidup masih saja menghiruk pikuk, saat waktu meringkuk meninggalkan luka yang teruk. Ke mana kaki akan pulang jika jejak terjebak di seribu simpang? Tak ada teman tak pula rasi bintang. Cuma matahari yang sekarat dan kerikil yang terserak. Kompas sudah … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

La Vostra Lettura

Bismillah. *** Aku membacamu di antara serbuan kata yang berdesakan dalam debat-debat basi, di antara logika konyol dan korelasi mati, analisis bodoh tumpang tindih. Masih, ku dengar mereka berperang dalam kubangan argumen. Meninju, menendang, di antara dinding-dinding facebook juga kicauan … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

,

Berlembar-lembar surat beterbangan mencari alamat. Sayap-sayapnya mengepak memburu jejak. Diterkam kecipak gigil juga terik menyengat. Kapankah kiranya akan tiba mendarat? Berlembar-lembar surat berenang mencari alamat. Sirip-siripnya mendayung mengoyak jarak. Menerjang gemuruh ombak juga angin berarak. Belum sampaikah ke pulaumu? Berlembar-lembar … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment

Pareidolia

Kau ke mana selarut ini? Meninggalkan jejak dalam mimpi. Belum juga habis desingan peluru, gaduh suara memecah di kesunyian bawah sadar, bersembunyi di akar-akar pohon tua, merambat ke lorong-lorong udara, meretakkan cahaya langit, mengurai salju di puncak bukit. Hey, siapa meniup sangkakala … Continue reading

Posted in Sekeranjang Sajak | Leave a comment